Selasa, 22 Juni 2010

Iman Kepada Malaikat

Iman kepada Malaikat

Malaikat (ملائكة) adalah bentuk jama’ dari malak (ملك). Ulama berbeda pendapat menganai apakah malaikat ini termasuk pada kata musytaq (memiliki asal-usul kata) atau jamid (istilah tersendir tidak memiliki asal kata). Demikian sebagaimana yang disampaikan Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya.Namun terlepas dari itu, malaikat adalah makhluk ghaib yang Allah ciptakan dari cahaya. Malaikat senantiasa taat kepada setiap apa yang Allah perintahkan. Allah telah membebani mereka dengan tugas-tugas tertentu. Diantara sekian banyaknya jumlah malaikat, sepuluh malaikat diantaranya yang disebut dalam Qur’an dan Hadits.

Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةِ مِنْ نُوْرٍِوَخُلِقَ الْجاَنُّ مِنْ ماَرِجٍِ مِنْ ناَرٍِوَخُلِقَ آدَمُ مِمَّاوُصِفَ لَكُمْ

”Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan adam ’Alaihissalam diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.”

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

”Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.”

Iman kepada malaikat adalah sebuah kewajiban, merupakan iman kedua setelah iman kepada Allah. Disebut kafir jika seseorang mengingkari akan adanya malaikat. Allah berfirman, “Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, kitab-kitab-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Sebagian ulama ada yang menggolongkan iman kepada malaikat ini termasuk kepada masalah sam’iyât. Masalah sam’iyât ialah masalah-masalah dalam aqidah yang wajib dipercayai dan dibenarkan keberadaannya dengan dasar dalil-dalil simâ’ (didengar), yaitu Qur’an, Sunnah Shahihah dan Ijma.[5] Dengan kata lain masalah sam’iyât adalah kepercayaan yang hanya berdasarkan nas-nas syar’i belaka tanpa bisa dirasionalkan oleh akal.

Jika demikian iman kepada malaikat hanya berdasarkan kepada dalil-dalil nas Qur’an dan Sunnah belaka tanpa bisa dibuktikan keberadanya oleh akal. Namun, kewajiban iman kepada malaikat adalah nyata, meski tidak bisa dirasionalkan oleh akal.


Dalil-Dalil Adanya Malaikat
Mengutip pendapat Imam Al-Jazâ`iri dalam Minhaj al-Muslim-nya, menurutnya adanya malaikat ini bisa dibuktikan dengan dasar dalil naqli dan dalil aqli.[6] Dari sini kita bisa menilai, jika Imam Al-Jazâ’iri termasuk ulama yang menyatakan bahwa adanya malaikat ini bisa dibuktikan dengan akal. Berikut ringkasan pendapat Imam Al-Jazâ’iri.


a. Dalil Naqli
Dalil naqli yang dimaksud Imam Al-Jazâ‘iri pengertiannya lebih umum, bukan hanya sesuatu yang dinukil dari Qur’an dan Sunnah saja, tetapi termasuk juga berita-berita yang sifatnya telah dinukilkan turun menurun secara mutawatir. Menurutnya, adanya malaikat itu berdasarkan pada:
1. Perintah Allah untuk beriman kepada malaikat. Hal ini termaktub dalam beberapa ayat Qur’an. Bisa dilihat dalam al-Nisâ (4): 136,

al-Baqarah (2): 98, al-Nisâ (4): 172, al-Hâqqah (69): 17 dll.
2. Berdasarkan sabda Rasulullah saw. dalam do’anya ketika beliau shalat malam.
3. Para sahabat yang melihat malaikat saat perang badr. Diceritakan bahwa banyak diantara para sahabat Rasul saw. ketika perang badr

yang melihat bala bantuan malaikat. Atau saat para sahabat didatang i tamu yang merupakan jelmaan malaikat Jibril, menanyakan

masalah Iman, Islam dan Ihsan.
4. Keimanan ribuan pengikut para rasul terdahulu terhadap malaikat berdasarkan penyampaian rasul-rasul mereka.


b. Dalil Aqli
1. Secara riil akal tidak menolak dan tidak pula menafikan adanya malaikat. Akal tidak akan menolak sesuatu hal kecuali sesuatu itu

memiliki sifat penyatuan dua hal yang bertentangan, seperti adanya gelap dan terang secara bersamaan.
2. Bahwa segala sesuatu itu ada berdasarkan adanya bekas dan atsarnya. Maka adanya malaikat bisa dibuktikan dengan adanya atsar

malaikat, sebagai berikut:
- sampainya wahyu kepada para rasul dan para nabi, karena wahyu disampaikan oleh malaikat Jibril. Bukti ini menjelaskan bahwa

malaikat itu ada.
- wafatnya makhluq dengan dicabut ruh. Ini membuktikan bahwa ada malaikat yang bertugas mencabut nyawa, yaitu malakul maut.
- penjagaan manusia dari kejahatan jin dan syetan selama hidupnya. Mereka hidup disekitar manusia dan menggodanya, sedangkan

manusia tidak bisa melihat mereka. Hal ini membuktikan bahwa ada penjaga yang menjaga manusia dari kejahatan mereka, yaitu

malaikat.
3. Sesuatu yang tidak bisa dilihat bukan berarti itu tidak ada, karena mata manusia sangat terbatas.

Sumber:


Ditulis Oleh : khairul anas ~ All- Round About Knowledge
Arak GoendoelSobat sedang membaca artikel tentang Iman Kepada Malaikat. Oleh Admin, Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

0 comments:

Leave a Reply