Kami Mohon Brotha n Sista bersedia untuk mengklik iklan di bawah ini demi kelangsungan blog ini ...

Sabtu, 12 Mei 2012

Pembuatan Sabun

Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Surfaktan sendiri berasal dari kata surface actif agents yaitu senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan mengandung suatu ujung hidrofobik dan suatu ujung hidrofilik. Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hydrogen pada permukaan dengan cara meletakkan bagian kepala hidrofiliknya pada permukaan air dan bagian ekor hidrofobiknya menjauhi permukaan air. Kegunaan sabun adalah kemampuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan cara pembilasan karena sabun merupakan molekul organic yang terdiri dari 2 kelompok gugus. Gugus pertama dinamakan liofil (atau hidrofil bila medium pendispersinya air) yang mempunyai arti “suka akan pelarut” dan gugus kedua dinamakan liofolik (atau hidrofobik bila medium pendispersinya adalah air) yang berarti “tidak menyukai pelarut”. Pada sabun, gugus hidrofilik memiliki afinitas yang sangat kuat terhadap medium air, sedangkan gugus hidrofobik bergabung dengan gugus hidrofobik dari molekul sabun lain membentuk agregat yang dinamakan misel.  Pada proses pembuatan sabun digunakan Sodium lauryl sulfat sebagai surfaktan yang ditambahkan ke dalam air demin sambil dipanaskan, hal ini dilakukan karena surfaktan mudah larut dalam air panas dibandingkan dengan air dingin sehingga dengan adanya pemanasan maka akan meningkatkan kelarutan (mudah larut). Selain menggunakan sodium lauryl sulfat (SLS) dapat pula digunakan senyawa-senyawa lain sebagai surfaktan, diantaranya adalah sodium lauryl ether sulfat (SLES), sodium dodecyl sulfat dan ammonium lauryl sulfat. Selain surfaktan, pada proses pembuatan sabun ditambahkan pula bahan-bahan pendukung yang antara lain adalah CAB-30 dan glycerin yang berfungsi sebagai pelembut karena sabun yang dihasilkan adalah sabun tangan cair sehingga harus lembut di tangan dan dapat mengangkat kelembaban pada lapisan kulit. Selain itu digunakan pula pewarna yang dapat memikat daya tarik konsumen, pewarna yang digunakan adalah pewarna yang aman untuk kesehatan kulit, contohnya adalah pewarna makanan. Sebagai pengompleksnya adalah Na-EDTA (garam dari EDTA) karena garam dari EDTA lebih mudah larut dalam air daripada EDTA. pH sabun harus diatur karena pH sabun adalah 7 (netral). Jika pada pembuatan sabun tersebut berada dalam suasana basa maka harus dibuat netral dengan cara menambahkan suatu larutan basa ke dalam campuran tersebut. Sebagai larutan basa dapat digunakan larutan NaOH sedangkan jika suasananya asam maka harus dinetralkan dengan cara menambahkan suatu larutan asam ke dalam campuran tersebut, salah satu contohnya adalah larutan asam sitrat. Untuk mengetahui suasana (asam/basa/netral) dari campuran tersebut maka dapat digunakan kertas pH.

Selain itu digunakan pula larutan NaCl jenuh yang berfungsi sebagai pengatur kekentalan. Larutan NaCl yang ditambahkan sesuai kebutuhan pembuatan sabun, tetapi sebaiknya untuk sabun tangan cair tidak terlalu kental dan juga tidak terlalu encer. Proses pembuatan sabun dasar, meliputi:
1. Safonifikasi
Pada proses ini minyak yang sudah dipucatkan (bleaching) dicampur dengan NaOH, kemudian dipanaskan dan diaduk sehingga terjadi tahap-tahap berikut:
a. Tahap periode inkubasi lambat
b. Tahap eksotermik cepat
c. Tahap penyelesaian (completion)
Safonifikasi dianggap selesai jika terbentuk sabun yang kental, kemudian ditambah garam kering supaya terjadi pemisahan antara sabun padat dan alkali.
2. Pencucian
Untuk memisahkan sisa gliserol dalam sabun dilakukan dengan cara menambahkan air garam panas (85oC) 10o pada sabun.
3. Fitting
Sabun yang didapatkan setelah mengalami pencucian selanjutnya mengalami pemanasan dan penambhan air sedikit demi sedikit sehingga didapatkan bentuk yang dikehendaki. Penentuan menggunakan “trowel test.”
Setelah penyabunan lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dari gliserol dipulihkan dengan penyulingan. Gliserol digunakan sebagai pelembab dalam tembakau, industri farmasi dan kosmetik. (Sifat kelembaban timbul dari gugus-gugus hidroksil yang dapat berikatan hidrogen dengan air dan mencegah penguapan air itu). Sabunnya dimurnikan dengan mendidihkan dalam air bersih untuk membuang lindi yang berlebih, NaCl dan gliserol. Zat tambahan (additive) seperti batu apung, zat warna dan parfum kemudian ditambahkan. Sabun padat lalu dilelehkan dan dituang ke dalam suatu cetakan.


sumber:
http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/05/tugas-kuliah-tentang-pembuatan-sabun.html
Judul: Pembuatan Sabun; Ditulis oleh khairul anas; Rating Blog: 5 dari 5

Ditulis oleh : khairul anas ~ All- Round About Knowledge
Arak GoendoelSobat sedang membaca artikel tentang Pembuatan Sabun. Oleh Admin, Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya


0 comments:

Leave a Reply