Selasa, 27 Maret 2012

Cacing Pita Kucing - Dipylidium Caninum

Kucing yang terkena serangan cacing pita biasanya jarang sekali menunjukkan gejala sakit. Cacing dapat saja menyebabkan mencret, kadang-kadang disertai bercak darah.
  • Pada kasus yang parah dapat menyebabkan kurang gizi, kurus, infeksi usus, dan gangguan pencernaan seperti usus tersumbat.
  • Sekitar 1-60 % dari seluruh populasi kucing terserang cacing ini.
  • Oleh karena itu pencegahan dengan pemberian obat cacing rutin adalah cara terbaik menghindari serangan cacing.
  • Pada anak kucing yang baru lahir dapat tertular cacing dari induknya. Anak kucing yang tertular biasanya mengalami diare (mencret) berkepanjangan. Akibatnya pertumbuhan menjadi terganggu sehingga anak kucing bisa mati karena dehidrasi dan kekurangan gizi.
  • Ada beberapa spesies cacing pita yang sering terdapat di pencernaan kucing, yaitu : Dipylidium caninum, selain itu ada pula jenis lainnya yaitu Taenia taeniaeformis dan Echinococcus multilocularis.
  • Sesuai namanya, cacing pita berbentuk pipih seperti pita dengan warna putih atau krem.
  • Cacing pita di pencernaan kucing dapat mencapai panjang 70 cm.
Cacing pita mempunyai kepala (scolex) dengan beberapa mulut penghisap yang berfungsi menghisap darah dan zat-zat makanan yang terdapat di usus kucing. Di kepala cacing pita terdapat rostellum, berbentuk seperti kikir bergerigi yang berfungsi sebagai jangkar. Rostellum ini menancap di dinding usus kucing dan menyebabkan luka pada usus kucing.
Badan cacing pita terdiri dari banyak segmen. Setiap segmen merupakan satu unit reproduksi fungsional. Segmen paling dewasa terdapat di ekor cacing pita. Bila telah matang segmen ini lepas dan mengeluarkan 5-30 telur cacing. Cacing pita bisa melepaskan 1 segmen dewasa setiap hari.
Cacing Dipylidium dewasa.
  1. kepala (scolex),
  2. strobilla
  3. segmen matang

Siklus Hidup Cacing Pita Dipylidium Caninum
  • Segmen cacing yang matang akan melepaskan diri dari induknya dan keluar melalui kotoran. Dalam segmen ini terdapat telur cacing.
  • Telur dalam segmen dapat bertahan selama beberapa bulan di daerah yang kering. Segmen yang kering berbentuk seperti butiran beras.
  • Segmen/telur cacing jatuh ke lantai atau alas tempat tidur kucing.
  • Telur pinjal (kutu kucing) yang juga menetas di tempat yang sama akan menghasilkan larva, larva tersebut akan memakan telur cacing.
  • Dalam tubuh pinjal, telur cacing berkembang menjadi cysticercoid.
  • Cysticercoid akan berpindah ke tubuh kucing bila pinjal menggigit dan menghisap darah kucing. Dalam tubuh kucing, cysticercoid akan berkembang menjadi cacing pita dewasa dan kembali menghasilkan telur. OK
Pengobatan Dan Pencegahan
Cacing pita hanya bisa dibasmi dengan obat cacing yang mengandung Prazyquantel, dichlorphen atau febendanzole.
  1. Semua kucing harus diberi obat cacing, bila pada salah satu kucing positif terdapat cacing pita.
  2. Semua kucing harus diberi obat anti kutu, bila pada salah satu kucing positif terdapat pinjal.
  3. Berikan obat anti kutu dan obat cacing secara rutin untuk pencegahan.
  • Jadi amat berbeda cacing pita pada kucing membutuhkan Hospes ( inang perantara ) Pinjal sejenis serangga , yang membawa Cycticercus ke kucing hingga dewasa di tubuh kucing ,
  • Cacing pita manusia memerlukan Hospes ( inang sementara) Sapi , babi , ikan , atau anjing yang pada hewan tersebut tidak dijumpai cacing dewasa adanya larva Cycticercus yang ada di tubuhnya
  • Sedangkan Cacing pita ini Cysticercusnya ada di tubuh PinjalJadi di Kucing adanya Cacing dewasa OK
sumber:

Ditulis Oleh : khairul anas ~ All- Round About Knowledge
Arak GoendoelSobat sedang membaca artikel tentang Cacing Pita Kucing - Dipylidium Caninum. Oleh Admin, Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

0 comments:

Leave a Reply